Menjadi relawan bidan desa membuatku belajar banyak hal...
Aku yang terlanjur cinta dengan desa ini... Hanya berpikir bagaimana ilmu ku bisa bermanfaat disini... Ilmu yang tidak seberapa ini...
Tawaran pekerjaan pun datang dalam kerelawanan ku... Dan yang kulakukan adalah memberikannya pada teman sejawatku...
Karena nyaris tidak ada klinik yang mau mempekerjakan bidan yang tidak siap bekerja full time dan on call setiap saat seperti ku...
Aku jujur pada mereka(yang menawari pekerjaan) bahwa aku adalah relawan di desa... Apakah tidak mengganggu jika saya di desa minimal 2 kali seminggu... Bahkan sempat aku meminta untuk bekerja di setiap shift malam saja...
"Kasian yang jaga yg lain mbak... Kalau mbak jaga malam terus dan ga gantian...."
Kerelawanan ku diuji dengan kebutuhan sehari hari... Seperti bensin dan yang lain.. Setidaknya untuk operasional jalan...
Akhirnya hari itu kuputuskan menjadi bidan on call di 2 tempat... Jika sewaktu waktu dibutuhkan... Aku akan menggantikan bidan jaga disana... Dan dalam 1 bulan belum tentu ada panggilan...
Akhirnya aku putus kan menambah 1 lagi kegiatan... Berniaga.... Berdagang setiap pagi... Setiap pagi ku buat puluhan martabak manis, camilan dan nasi goreng untuk disetor dikantin-kantin sekolah...
Berdagang inilah awal aku belajar tentang menghargai...
.....
Saat mengantar dagangan... Aku memang tak pernah memperhatikan detail penampilanku... Seolah jauh dari sosok bidan... Ak melebur dengan kondisi pasar dan pedagang2 pada umumnya...
Hingga suatu hari aku dimaki dan dihina oleh seorang pedagang yang menerima titipan dari beberapa pembuat jajanan... Saat itu ak terkejut... Jajanan yang kubuat kala itu memang sedikit high class... Ummm... Engga terlalu high class juga sih... Puding dengan fla... Rasanya luar biasa... Ak sudah menanyakan pada pemilik resep wajarnya harga jual puding itu... Cup kecil kala itu ak patok dengan harga 800... Asumsiku pedagang bisa menjualnya 1000 dan meraih keuntungan 200 rupiah...
Apa yang terjadi...
Pudingku disamakan dengan agar2 yang proses pembuatannya saja bahkan tanpa susu dan telur... Dia menghina ku sejadi jadinya... Masih tertanam sangat jelas di memory ku hari dimana dia menghujatku...
Aku tarik nafas dalam... Dan kukatakan... Yaudah bu... Saya nitip dulu... Monggo nanti laku atau tidak... Kutinggalkan ruko nya dan kukatakan pada diriku sendiri.. Ku ikhlaskan seluruh puding itu untuknya... Tidak akan ak datang dan mengambilnya.. Jujur waktu itu sakit hati bangett.... Karena daganganku itu cukup laris di sekolah...
Mungkin karena penampilanku yang sangat sederhana... Ada seorang tukang parkir yang tiba2 tersenyum dan berkata sabar mb... Bahkan saat aku ulurkan uang 1000 untuk bea parkir dia menolak dan berkata dibawa aja mbak... Tidak bisa kubayangkan seberapa lusuh nya penampilan dan raut wajahku saat itu...
Penolakan memang selalu ada... Tidak semua sekolah mau dititipi jajanan...
Jadi bagiku dagang ini juga memberiku banyak pelajaran...
Saat duduk dibangku SMA... Aku pun seorang pedagang jilbab... Kemana2 bawa kantong kresek isi puluhan jilbab tanpa rasa malu menawarkan ke kantor guru... Jadi kenapa aku harus menyerah hanya karena hal ini...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar